DIALEKTIKA HEGEL (TESIS-ANTITESIS-SINTESIS) DALAM ETIKA DAN FILSAFAT BERKOMUNIKASI ERA KONTEMPORER

Muhammad Rachdian Al Azis

Abstract


Dalam dunia kontemporer yang sudah serba terdigitalisasi, pemanfaat teknologimenjadi marak dipergunakan. Hal yang sama juga berlaku di dalam dunia komunikasi.Manusia sebagai makhluk sosial tentu memiliki kecenderungan untuk terus mencari manusialain untuk proses pertukaran pesan. Media sosial sebagai wujud pemanfaatan teknologi tadidipergunakan untuk kepanjangan indrawi manusia dalam kemampuan berinteraksi. Dalamprosesnya, adanya mesin-mesin tadi yang terbungkus dalam istilah teknologi ini kemudianmenimbulkan pertanyaan, apakah pemanfaatannya dibarengi dengan etika—sebuah konsepsiyang menimbang baik-buruk—mengingat banyak platform berbasis internet memungkinkanproses komunikasi tanpa perlu repot terlebih dahulu saling bertukar pandang.Masih segar dalam ingatan, kasus Jrx, penabuh drum SID yang mencantumkanpostingan di sosial media “IDI kacung WHO” sehingga berujung pada pelanggaran pasal 28ayat (2) jo Pasal 45A ayat (2) dan/atau pasal 27 ayat (3) jo pasal 45 ayat (3) jo pasal 45 ayat(3) UU Informasi dan Transaksi Elektronik dan/atau pasal 310 KUHP dan/atau pasal 311KUHP. Meski disangkakan seabrek pasal, Jrx berdalih dirinya hanya memperjuangkan nyawarakyat. “Kritik saya ini untuk ibu-ibu yang menjadi korban akibat dari kebijakan kewajiban rapid test (sebagai syarat administrasi).”Muncul kemudian pertanyaan, mengapa klaim yang begitu heroik dari niat yang begitu mulia kemudian bisa bermuara pada pelanggaran hukum? Di mana letak kesalahan komunikasinya? Apakah konten postingan yang menyebut IDI kacung WHO? Apakah karena cara kritik yang kurang relevan? Lalu bagaimana cara kritik yang pantas dan relevan? Apakah medium penyalur kritik tersebut sudah tepat? Apakah yang dilakukan oleh yang bersangkutan sudah sejalan dengan niat pemanfaatan sosial media selaku medium? Apakah dalam membuat postingan, yang bersangkutan sudah melewati proses pemikiran panjang? Apakah yang bersangkutan memahami pentingnya etika dalam menyampaikan pendapat? Atau apakah pemahaman etika sendiri di Indonesia kemudian sudah bergeser? Pertanyaan-pertanyaan tersebut di muka tentu menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih filosofis: Apakah etika masih ditempatkan pada suatu tempat yang layak, yakni yang disebut Spinoza dalam karyanya, The Ethics, agar manusia hendaknya tidak terbawa oleh perasaannya.Benar jika dibilang Spinoza adalah seorang realism. Seorang Pantheis yang kemudian menyamakan Tuhan dengan alam itu sendiri. Tapi dialah yang mula-mula (jika boleh dikatakan) bersama Immanuel Kant keluar dari paham dogmatis Yahudi dan/atau Kristiani untuk kemudian menjadikan filasafat sebagai pisau dalam membedah fenomena yang ada.Sehingga agaknya, dapat dijadikan sebagai salah satu pegangan dalam konteksnya relevansi dengan kehidupan di Indonesia yang tak hanya ke-beragam-an dan ke-ber-agama-an.

Keywords


Komunikasi, Etika, Dialektika Hegel

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.31294/jkom.v12i2.10472

ISSN2579-3292

Dipublikasikan oleh LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Jl. Kramat Raya No.98, Kwitang, Kec. Senen, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10450
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License