Efektivitas Terapi Nebulizer Dengan Ipratropium Dan Fenoterol Terhadap Saturasi Oksigen

Valentina B.M Lumbantobing

Sari


ABSTRAK

Gangguan pertukaran gas dapat terjadi selama serangan akut asma yang dapat menimbulkan hipoksemia dan dapat dilihat dari penurunan saturasi oksigen (SpO2). Salah satu bentuk penanganan farmakologis adalah menggunakan teknik nebulizer dengan Ipratropium dan Fenoterol. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui  perbedaaan efektivitas terapi nebulizer dengan Ipratropium dan Fenoterol terhadap saturasi oksigen pada pasien asma bronkial di Ruang Rawat Inap RSUD X Jawa Timur. Desain Penelitian adalah pretest-posttes control group design. Populasi adalah seluruh pasien asma bronkial di Ruang Rawat Inap RSUD X Jawa Timuryang berjumlah 16 responden. Sampel diambil dengan teknik consecutive sampling. Sampel diperoleh sebanyak 16 responden dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu Ipratropium 8 responden dan Feneterol 8 responden. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah checklist observasi. Analisa data menggunakan uji statistik Independent Sample T-Test dengan α 0.05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setengah responden yang diberi terapi Ipratropium yaitu 4 responden (50%) mengalami peningkatan SpO2 sebesar 4, setengah responden yang diberi terapi Feneterol yaitu 4 responden (50%) mengalami peningkatan SpO2 sebesar 5. Hasil uji Independent Sample T-Test diperoleh p-value 0,001 ≤ a 0,05. Hasil rata-rata (mean) peningkatan SpO2 pada terapi Ipratropium adalah 3,750 sedangkan pada terapi Feneterol adalah 5,375, sehingga dapat dikatakan bahwa rata-rata peningkatan SpO2 pada terapi Fenoterol lebih tinggi daripada terapi Ipratropium. Ada perbedaan efektivitas terapi nebulizer dengan Ipratropium dan Fenoterol terhadap saturasi oksigen pada pasien dengan asma bronkial.

 Kata Kunci: Nebulizer, ipratropium, fenoterol, saturasi oksigen.

 

ABSTRACT

Disruption of gas exchange can occur during acute asthma attacks can lead to hypoxemia and can be seen from the decreased oxygen saturation (SpO2). One form of pharmacological treatment is to use a nebulizer techniques with Ipratropium and fenoterol. The purpose of this study was to determine differences in the effectiveness of nebulizer therapy with Ipratropium and fenoterol against oxygen saturation in patients with bronchial asthma in X Hospital East Java. Design research is pretest-posttes control group design. The population was all patients of bronchial asthma in Space Inpatient Hospital totaling 16 respondents. Samples were taken with consecutive sampling technique. Samples were obtained by 16 respondents were divided into 2 groups, ie Ipratropium 8 respondents and 8 respondents Feneterol. The instrument used in this study was the observation checklist. Analyze data using statistical tests Independent Sample T-Test with α 0.05. The results showed that half of the respondents were given the therapy Ipratropium 4 respondents (50%) SpO2 increased by 4, half of the respondents who were given the treatment Feneterol 4 respondents (50%) SpO2 increased by 5. Independent test results obtained Sample T-Test p-value 0.001 a 0.05. The results of the average (mean) increase in SpO2 Ipratropium therapy is 3.750 whereas Feneterol therapy is 5.375, so it can be said that the average increase in SpO2 at higher than therapeutic fenoterol Ipratropium therapy. There are differences in the effectiveness of nebulizer therapy with ipratropium and fenoterol on oxygen saturation in patients with bronchial asthma.

 Keywords: Nebulizer, Ipratropium, Fenoterol, Oxygen Saturation.


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Alsagaff, H, Mukty, A,. Eds. (2002). Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Cetakan Ketiga. Surabaya: Airlangga University Press

Brunner, L & Suddart, D. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. (H. Kuncara, A. Hartono, Terjemahan). Edisi 8. Vol. 1. Jakarta: EGC.

DepKes RI., (2009). Profil Kesehatan Indonesia 2008. Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Firshein, R. (2006). Memulihkan Asma: Cara Menghentikan Gangguan Asma Secara Menyeluruh. Jakarta: B. First.

Hamelmann. (2007). The Rationale for Treating Allergic Asthma with Anti-IgE. Eur Respir Rev:16:61-6.

Joyce, L.K. (1996). Farmakologi: Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta: EGC.

Lombardi C, Gani F, Landi M, Boner A, Canonica GW, Passalacqua G. (2003). Clinical and Therapeutic Aspects of Allergic Asthma in Adolescents. Pediatry Allergy Immunol

Nuryanti, Dwi. (2012). Asuhan Keperawatan Asmatikus.

Oman, Kathleen S. (2002). Panduan Belajar Keperawatan Emergensi. Jakarta: EGC.

Parakrama, C. (2006). Ringkasan Patologi Anatomi. Jakarta: EGC.

PDPI. (2004). Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Asma 1 di Indonesia.

Prasetyo, M.B. (2012). Materi Pelatihan Asma Bronkial RSUD Nganjuk.

Sundaru H. (2001). Buku Ajar Penyakit Dalam Jilid II Edisi Ketiga. FKUI.

Suryanto E. (2001). Diagnosis dan Klasifikasi Asma. Proseding Temu Ilmiah Respirologi, Surakarta: Cuijpers C, Wesseling GJ, Swaen GMH.




DOI: https://doi.org/10.31311/.v5i1.1916



 
 

Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas BSI