Kajian Kesesuaian, Daya Dukung dan Aktivitas Ekowisata di Kawasan Mangrove Lantebung Kota Makassar

Rini Rini, Isdradjat Setyobudiandi, Mukhlis Kamal

Sari


ABSTRAK
Kawasan ekosistem mangrove Lantebung merupakan contoh kawasan rehabilitasi mangrove yang cukup berhasil sejak tahun 2010 hingga sekarang. Kini, ekowisata mangrove akan dikembangkan sebagai bentuk pengelolaan yang tepat untuk menjamin keberlanjutan konservasi dan rehabilitasi sekaligus mendorong ekonomi masyarakat lokal. Sehingga, tujuan penelitian ini adalah menghitung indeks kesesuaian wisata, menghitung daya dukung kawasan dan mengidentifikasi kegiatan ekowisata yang dapat dilakukan di dalam kawasan. Perhitungan indeks kesesuaian kawasan menggunakan rumus IKW = [∑Ni/Nmaks] x 100%, perhitungan daya dukung kawasan dengan menggunakan rumus DDK = K x [Lp/Lt] x [Wt/Wp] dan identifikasi kegiatan ekowisata dilakukan dengan identifikasi visual dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan mangrove Lantebung sesuai (S) untuk kegiatan wisata dengan nilai kesesuaian sebesar 66,67%. Panjang kawasan yang dapat dimanfaatkan 2 km atau seluas 12 ha dan daya dukung sebesar 182 orang/hari (buka 8 jam/hari), jika berdasarkan pada jam buka pengelola (12 jam/hari) maka daya dukungnya menjadi 274 orang/hari. Untuk jenis kegiatan wisata yang dapat dilakukan berjumlah 7 kegiatan, yaitu fotografi (photography), tracking, pengamatan satwa burung (bird watching), pengamatan mangrove (education), pembibitan (education), wisata perahu (boating) dan menikmati suasana matahari tenggelam.
Kata kunci: daya dukung kawasan, ekowisata mangrove, indeks kesesuaian wisata, Lantebung

ABSTRACT
Ecosystem mangrove of Lantebung is an example of mangrove rehabilitation area which is quite successful since 2010 until now. Now, mangrove ecotourism will be developed as an appropriate form of management to ensure the sustainability of conservation and rehabilitation while driving the economy of local communities. Thus, purposes of this study are to calculate the tourist suitability index, calculate the carrying capacity and to identify of ecotourism activities that can be done within the area. The calculation of suitability index using the formula IKW = [ΣNi / Nmaks] x 100%, calculation of carrying capacity using DDK = K x [Lp / Lt] x [Wt / Wp] and identification of ecotourism activities conducted with visual identification and interview. The results showed that the suitable mangrove area of Lantebung is suitable (S) for tourism activities with a value of suitability of 66.67%. The length of the area can be used 2 km or 12 ha and its carrying capacity is 190 persons/day (open 8 hours/day), if based on the management hours (12 hours/day) then its carrying capacity is 286 persons/day. Type of ecotourism activities that can be done totaling 7 activities, namely photography, tracking, bird watching, mangrove observation (education), seeds nursery (education), boat tours and enjoy the sunset.
Keywords: carrying capacity, mangrove ecotourism, tourism suitability index, Lantebung

Kata Kunci


carrying capacity, mangrove ecotourism, tourism suitability index, Lantebung

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Badan Perencana Pembangunan Daerah (BPPD) Kota Makassar. (2015). Peraturan daerah Kota Makassar Nomor 4 tahun 2015 tentang rencana tata ruang wilayah Kota Makassar tahun 2015-2034. Makassar: BPPD Kota Makassar.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Makassar. (2017). Kota Makassar dalam angka 2017. Makassar: BPS Kota Makassar.

Bando, A.R., Marsoedi, Susilo A., Tamsil A. (2017). The strategy of mangrove forest management due to mitigation in north coastal area of Makassar. Resources and Environment, 7(2), 31-39.

Bjork P. (2000). Ecotourism From A Conceptual Perspective, An Extended Defenition of A Unique Tourism Form. International Journal of Tourism Research., 2, 189-202.

McNeely J. (1992). Ekonomi dan keanekaragaman hayati: pengembangan dan pendayagunaan insentif ekonomi untuk melestarikan sumberdaya hayati. (terjemahan dari Economic and biological diversity: Developing and using economics incentives to conserve biological resources). Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Muhajirin, Wunah S., Rachman T. (2015). Pengembangan sistem transportasi sungai dalam mendukung ekowisata Sungai Tallo Kota Makassar. Jurnal Penelitian Transportasi Multimoda. 13(04), 191-198.

Nugraha, H.P., Indarjo., Helmi M. (2013). Studi kesesuaian dana daya dukung kawasan untuk rekreasi pantai di Pantai Panjang Kota Bengkulu. Journal of Marine Research, 2(2), 130-139.

PAC/RAC. (2003). Guide to good practice in tourism carrying capacity assessment. Split: PAC/RAC.

Tuwo A. (2011). Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut: Pendekatan Ekologi, Sosial-Ekonomi, Kelembagaan dan Sarana Wilayah. Surabaya: Brilian Internasional.

The International Ecotourism Society. (1991). Regional prepatory conference for the world ecotourism summit. http://www.ecotourism.org.

Wahyuni P.I., Ardhana, Sunarta I.N. (2007). Evaluasi pengembangan ekowisata di kawasan Tahura Ngurah Rai. Jurnal Ecotrophic, 4(1), 45-56.

Yulianda F. (2007). Ekowisata Bahari sebagai Alternatif Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir Berbasis Konservasi [Makalah]. Disampaikan pada Seminar Sains Departemen Manajemen Sumberdaya Pesisir. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. 119-129.

Yulianda F, Fahruddin A, Adrianto L, Hutabarat A.A, Harteti S, Kusharjani, Kang HS. (2010). Pengelolaan Pesisir dan Laut Terpadu. Bogor: Pusdiklat Kehutanan-Departemen Kehutanan RI. Secem-Korea International Coorperation Agency.




DOI: https://doi.org/10.31311/par.v5i1.3179