Pemberdayaan Perempuan Melalui Pelatihan Pijat Nifas Bagi Kader Di Desa Babakan Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung

OD Sari Ningsih

Sari



Salah satu cara efektif dalam meningkatkan produktifitas Indonesia adalah melalui pemberdayaan perempuan. Negara perlu melakukan investasi terhadap perempuan dengan menjamin kesehatannya secara menyeluruh. Pemberdayaan perempuan tidak serta merta menjadi tanggung jawab pemerintah. Peran masyarakat sangat dibutuhkan untuk mendukung program-program dari berbagai sektor. Kesehatan perempuan, dapat dilakukan bersinergi antara pemerintah dan masyarakat. Sekolah Tingi Ilmu Kesehatan Immanuel melalui Program Studi D3 Kebidanan mengambil peluang dalam rangka pengabdian kepada masyarakat khususnya para perempuan. Daerah yang disasar adalah Desa Babakan di Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung. Program-program Kesehatan Ibu dan Anak dan Kesehatan Reproduksi, menjadi salah satu yang diperhatikan. Data menunjukan jumlah kader 28 orang dengan kompetensi yang dimiliki adalah pengelolaan posyandu 5 meja, pendampingan perempuan yang memerlukan rujukan kesehatan dan kegiatan lainnya seperti olah raga. Berdasarkan latar belakang maka dilakukanlah pengabdian kepada masyarakat melalui topik “Pemberdayaan Perempuan Melalui Pelatihan Pijat Nifas Bagi Kader di Desa Babakan Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung”. Tujuan; tercapainya pemberdayaan perempuan melalui kemampuan kader untuk melakukan pijat nifas. Manfaat; pengetahuan, pemahaman dan kemampuan kader dalam hal pijat nifas serta kemampuan untuk menambah pemasukan ekonomi. Metode; Analisis situasi, kajian/survey awal, kajian potensi kader posyandu, perijinan, penyusunan materi , implementasi, evaluasi, perumusan laporan kegiatan dan publikasi. Hasil; Pengetahuan kader tentang pijat nifas sebagian besar berpengetahuan cukup 14 orang, berpengetahuan baik 10 orang dan berpengetahuan kurang 2 orang. Pemahaman kader tentang pijat nifas sebagian besar berpengetahuan cukup 14 orang, berpengetahuan baik 12 orang dan berpengetahuan kurang 2 orang. Kemampuan kader setelah mengikuti pelatihan pijat nifas dengan kemampuan baik 26 orang, kemampuan cukup 2 orang. Sebagai tindak lanjut dari pelatihan ini, maka pelatih berkolaborasi bersama petugas kesehatan dan pemerintahan setempat untuk melakukan pemantauan selanjutnya. Simpulan; pemberdayaan perempuan melalui pelatihan pijat nifas bagi kader bahwa sebagian pengetahuan dan pemahaman kader tentang pijat nifas adalah cukup. Kemampuan kader dalam mengimplemetasikan pijat nifas adalah baik. Manfaat penyerta yang bisa dimanfaatkan bagi kader adalah menambah pemasukan ekonomi. Rekomendasi pelatihan ini diperlukan pendampingan dan pemantauan petugas kesehatan dan pemerintah setempat untuk mengembangkan terus potensi kader dalam rangka pemberdayaan perempuan. Pelatihan pijat nifas ini terbatas, sehingga diperlukan pelatihan-pelatihan lanjutan atau topik lainnya untuk lebih memampukan pemberdayaan perempuan. Ucapan terimakasih kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, Puskesmas Pakutandang Ciparay Kabupaten Bandung dan Kepala Desa Babakan Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung beserta jajarannya.


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Zulkifli, (2003). Posyandu dan Kader Kesehatan, FKM-USU

Departemen Kesehatan RI. (2006). Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu, Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Jakarta.

Pusdiknakes. (2003). Asuhan Kebidanan Postpartum. Jakarta : PUSDIKNAKESWHO-JHPIEGO. Hal. 58.

Purwati, Eni. (2012). Asuhan Kebidanan Untuk Ibu Nifas. Yogyakarta : Cakrawala Ilmu. Hal. 79.

WHO. (2013). Postnatal Care for Mothers and Newborns. Highlights from the WHO Guidelines.




DOI: https://doi.org/10.31294/jabdimas.v2i2.5143

DOI (PDF): https://doi.org/10.31294/jabdimas.v2i2.5143.g3396

    
Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional
               Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Bina Sarana Informatika